Kehidupan yang Berulang
Pagi ini, seperti biasa, apa yang kulalui dalam menjalani kehidupanku sebagai seorang karyawan: bangun pagi bersama istri, mempersiapkan anak-anak sebelum berangkat sekolah, lalu aku pun bersiap berangkat ke kantor.
Menikmati kesendirian di atas jalan beraspal dan terus mencoba membiasakan diri dengan kemacetan sebagai sebuah rutinitas yang hanyalah sebagian kecil dari segudang masalah hidup yang ada.

Di tengah-tengah menikmati waktu kesendirian itu, terbersit beberapa pemikiran acak di kepalaku yang kucoba tuangkan serapi mungkin dalam tulisan ini.
Sebagai catatan, sejujurnya aku tidak tahu harus mengelompokkan tulisan ini ke dalam Gelap atau Terang.
Namun, di atas semuanya, tulisan ini tidak mencoba mengambil kesimpulan apa pun dan tidak mencoba mencari jawaban.
Mungkin beberapa dari kita, setelah membacanya, akan merasa lebih mengerti dan menjadi ahli di bidang ini, lalu mempunyai jawaban. Akan tetapi, tujuanku bukan mencari jawaban semacam itu.
Hanya mencoba secara jujur menuliskan sesuatu yang aku pikirkan sepanjang jalan dalam kemacetan dan kesendirian itu.
Mungkin ada pula yang menyimpulkan sesuatu dalam tulisan ini sebagai suatu perasaan yang kumiliki saat berada di dalam kesendirian.
Entahlah…
Tetapi aku tak punya niat juga untuk mengungkapkan perasaan apa pun.
Tentang Pencipta
Kuberikan judul Pencipta pada tulisan ini.
Pencipta sebagai subjek dan pelaku, entitas, makhluk, zat… entahlah….
Apa pun wujud-Nya, Pencipta dalam tulisan ini memang aku tujukan kepada entitas yang umumnya dianggap Mahakuasa di antara segala makhluk yang ada dalam sejarah kehidupan umat manusia.
Bahkan mungkin Dia bukanlah termasuk makhluk, karena makhluk adalah definisi yang kita buat untuk sesuatu yang kita kenal secara geometris.
Tetapi Dia?
Mmhh… entahlah, kayaknya aku sudah pernah menuliskan sesuatu dengan genre yang mirip seperti tulisan ini.
Hingga membuat aku bingung harus memulai dari mana menuliskannya.
Pemikiranku seolah mengajakku berdiri di antara pengakuan pada dua titik yang secara esensi berada pada posisi yang berlawanan.
Tentang apa?
Ya, tentang Tuhan dan Pencipta.
Tetapi, agaknya… semoga saja… tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau membuat suatu agama atau keyakinan tersinggung dalam ruang publik yang disebut internet, pada website kamarhitamku.com.
Aku rasa, secara pribadi memang tidak.
Entahlah dengan kalian….
Hierarki yang Dibiarkan
Hal yang bertolak belakang menurutku adalah ketika Entitas itu, sebagai Pencipta, menciptakan segala sesuatu dalam ruang lingkup bumi ini dengan suatu susunan yang teratur dan saling terkait.
Namun, tetap saja ada hierarki di dalamnya.
Ada yang lebih unggul dan dimuliakan daripada yang lain.
Manusia, contohnya, menjadi makhluk yang paling mulia di antara segala makhluk.
Tetapi, itu pun, di antara manusia sendiri, Tuhan sebagai Pencipta agaknya membiarkan kita—kami, aku, dan kamu—berjuang mendapatkan posisi yang terbaik di antara manusia lainnya, atau yang kita kenal sebagai harkat dan martabat.
Ada harkat dan martabat seseorang yang dianggap lebih tinggi daripada yang lain. Tentunya, hal itu akan berdampak pada harkat dan martabat seseorang yang dianggap lebih rendah.
Tinggi dan rendah…
Lebih baik dan lebih buruk….
Kedua istilah tersebut, secara substansi, bagiku ingin menggambarkan bahwa perbedaan hierarkis tidak hanya terjadi antarmakhluk, tetapi juga antarsesama manusia.
(Tolong jangan diprotes dulu, ya… karena memang tujuanku bukan mencari jawaban, tetapi memaparkan isi kepalaku tadi pagi.)

Harkat dan Martabat
Di antara seluruh manusia itu, termasuk aku tentunya, jika kita menganggap harkat dan martabat dapat diukur dari kecukupan kehidupan, maka harkat dan martabat yang lebih tinggi dipandang memiliki kecukupan hidup yang lebih daripada yang lain.
Aku sendiri cukup beruntung karena sejak kecil orang tuaku sepertinya berhasil membuatku merasa bahwa harkat dan martabat kami tidak lebih tinggi dan juga tidak lebih rendah daripada yang lain.
Aku tidak tahu caranya, tetapi sepertinya, setidaknya dulu, aku merasa demikian.
Walaupun aku tahu bahwa ada beberapa orang di sekitar keluarga kami yang hidup bersama kami—tetangga, misalnya—memiliki harta yang lebih banyak daripada kami.
Dalam konteks anak-anak dulu, mereka memiliki mainan yang lebih banyak.
Kira-kira begitu….
Namun, bagaimana dengan orang-orang yang tidak merasakan hal yang sama denganku?
Banyak yang mengalami tragedi yang berbeda, dari ukuran yang tidak terlalu signifikan hingga yang sangat signifikan.
Kata yang Menenangkan
Kita, sebagai manusia, lalu dibiarkan berpikir melalui ajaran-ajaran kebatinan, kebajikan, kebaikan, atau apa pun itu yang membahas tentang kekuatan transenden yang dianggap suci serta memiliki kuasa yang lebih besar daripada kuasa mana pun terhadap dunia tempat manusia tinggal, atau dunia-dunia lainnya di alam semesta ini, hingga linta alam semesta lainnya.
Untuk mengucapkan satu kata yang dimaklumatkan sebagai kata ajaib, yang dipercaya dapat memperbaiki keadaan.
“Syukur….”
Entah dari mana konsep seperti ini awalnya.
Dulu aku berpikir, syukur cukup untuk menutup kekosongan atau perbedaan hierarki harkat dan martabat tadi.
Namun pagi tadi, aku merasa sepertinya tidak cukup.
Kebebasan yang Diberikan

Tuhan itu—entitas yang Mahakuasa itu—jika dipandang sebagai Pencipta, dalam pemikiranku tadi pagi, sepertinya memang sengaja menciptakan dan menanamkan konsep semacam itu di tengah-tengah manusia sebagai alat kendali.
Di antara sesama manusia.
Manusia bebas memilih untuk bertakwa ataupun tidak.
Atau jika kita anggap takwa itu sebagai suatu kebaikan.
Maka, dengan kata lain, manusia bebas memilih untuk melakukan kebaikan atau tidak.
Jika manusia bebas memilih melakukan kebaikan atau tidak, maka menurutku ukuran kebaikan itu pun bebas ditentukan oleh manusia.
(Ini terlepas dari keyakinan bahwa agama kita masing-masing sudah menuliskan berbagai standar aturan tentang kebaikan itu, ya….)
Rumput yang Bergoyang
Manusia yang bebas memilih melakukan kebaikan atau tidak itu pun, dilihat Pencipta, adalah sesuatu yang baik.
Maksudnya?
Masih saja ada yang korupsi walaupun sudah ada hukumannya , dan masih saja ada yang membunuh walaupun sudah ada hukumannya.
di lain hal lagi, masih saja ada yang melakukan perbuatan zalim walaupun sudah ada hukumannya.
Bagi yang terbunuh…
Bagi yang menderita karena korupsi…
Dan bagi yang dizalimi…
Apakah ini sesuatu yang baik?
Mmmhh….
Hanya rumput yang bergoyang sepertinya yang akan diam, tidak menjawab….
Hanya bergoyang saja ke kiri dan ke kanan….
Tetapi ada satu kata ajaib.
“Syukur….”
Yang dapat mengendalikan amarah dan kekecewaan karena semua hal itu.
Terbunuh.
Dirugikan.
Dan dizalimi….
Catatan di Jalan Antasari
Ironi memang.
Tetapi begitulah menurut pemikiranku tadi pagi….
Sepanjang perjalanan dalam kemacetan yang tidak begitu parah di sepanjang Jalan Antasari.
Banyak lagi yang ingin kuceritakan.
Tetapi jam 13.18 siang ini, aku rasa ini cukup.
Nanti kalau ingat, kutuliskan lagi.
Salam….
Syukur….

Bersama Kamar Hitam
Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini
Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…

Leave a Reply