Alam semesta…?

“Alam semesta…?” Tanyaku…
Kucoba renungkan perlahan…
kata per kata…
Tetapi memang tak kutemukan jawaban yang pasti.
“Alam semesta…?” Tanya batinku lagi…
Terlepas dari apa yang dapat kulihat dan kudengar dari segala materi yang ada di dunia ini, kalau kupikir-pikir lagi…
Mungkin ya…?
Entahlah…
Dua kekuatan besar yang menaunginya adalah Gelap dan Terang.
Siklus gelap dan terang
Mereka tidak saling tarik-menarik.
Mereka tampak seperti sebuah kolaborasi dalam suatu persatuan tanpa henti pada satu siklus yang dikreasikan oleh Sang Pencipta dalam satu kali dua puluh empat jam yang kita kenal sebagai bentuk satuan waktu — satu hari.
Pagi menuju siang dan ditutup oleh malam yang esoknya kembali lagi ke pagi.
Aku memaknainya sebagai terang yang menuju gelap dan kembali ke terang dalam siklus yang seakan abadi.
“Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama”

Kehidupan di bawah gelap dan terang
Masing-masing makhluk di atas bumi pun seolah harus berbagi kekuasaan dan otoritas pada titik waktu yang mana mereka berhak memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ada makhluk yang ditakdirkan hidup di dalam kegelapan, atau dikenal sebagai makhluk nocturnal, dan ada pula makhluk yang hidup di bawah terang.
Gelap dan terang yang silih berganti itu seolah menjadi ruang pemulihan bagi kedua kelompok makhluk tersebut secara bergantian.
Makhluk di bawah kegelapan menjadikan terang sebagai waktu untuk memulihkan segalanya dari awal.
Begitupun makhluk di bawah terang, menjadikan kegelapan sebagai ruang aman untuk pemulihan.
Seakan Sang Pencipta memiliki tujuan tertentu ketika menginspirasikan kalimat: “…Kesusahan sehari cukuplah sehari.”
Secara ilmiah, kehidupan di bumi memang bergerak mengikuti ritme terang dan gelap yang dikenal sebagai circadian rhythm.
Manusia, hewan, bahkan tumbuhan memiliki pola biologis yang dipengaruhi oleh pergantian cahaya dan kegelapan.
Ada makhluk yang aktif pada malam hari.
Ada pula yang bergantung pada cahaya matahari untuk bertahan hidup.
Karena itu, dalam sudut pandang kehidupan biologis, gelap dan terang memang bukan sekadar lawan, tetapi bagian dari keseimbangan ekosistem.

Tentang kegelapan
Tetapi, jauh di atas sana, menurutku, kegelapanlah yang paling besar perannya dalam menaungi seluruh jagat raya.
Bukan sebagai suatu ketiadaan, melainkan suatu bentuk rahasia abadi yang disimpan oleh Pencipta bagi siapa pun yang mengetuk pintu-Nya dengan teguh dan mencari rahasia itu dengan kegigihan.
“Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya,
dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”
Tetapi, memang Pencipta sepertinya berencana sejak awal untuk menciptakan dua kekuasaan yang nantinya akan saling menyeimbangkan, berkolaborasi dalam satu siklus satuan waktu, menari-nari dengan indah untuk menghibur Sang Pencipta dalam suatu pertunjukan perjalanan waktu, yang manusia sebut sebagai menjalani hidup…
Kehidupan dan sebuah pertunjukan
Tunggu sebentar…
Apa yang barusan benakku katakan tidak salah…?
“Ya, memang itu yang kukatakan…” benakku menyahut lirih.

Memang terdengar ironi dan sinis,
Bahwa apa yang kita sebut hidup itu mungkin saja adalah sebuah pertunjukan dalam siklus tiada henti di hadapan Sang Pencipta.
Pertunjukan untuk memastikan kita, manusia ciptaan-Nya ini, mampu memenuhi tanggung jawab sebagai wakil-Nya di bumi.
Dari kehidupan kepada kematian hingga kehidupan baru muncul.
Begitupun dari kekuasaan menuju penaklukan.
Kesemua hal itu mungkin adalah sebuah pertunjukan yang indah bagi Pencipta.
Di tengah-tengah ruang dan waktu yang seolah berdiri sendiri namun berdampingan dengan kehidupan manusia itu,
Pencipta pun menyisipkan harapan bagi yang lemah dan ancaman bagi yang kuat.
Pencipta menginspirasikan konsep yang manusia kenal sebagai agama — neraka dan surga.
Keseimbangan yang disengaja
Lagi-lagi untuk menjaga keseimbangan antara Gelap dan Terang.
Sehingga Gelap dan Terang dapat terus berkolaborasi demi tujuan mula-mula Sang Pencipta.
Pada akhirnya, untuk tujuan penciptaan dua kekuasaan yang saling berkolaborasi itu,
dan demi menjaga keselarasan otoritas dan kehidupan makhluk di bawah gelap dan makhluk di bawah terang,
Pencipta pun memisahkan Terang dari Gelap.
“Allah melihat terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.”
Bersama Kamar Hitam
Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini
Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…

Leave a Reply