Sebagai pembuka dalam tulisan ini, saya ingin mengulang dua kata terakhir pada tulisan tentang Pencipta sebelumnya.
“Salam…”
“Syukur…”
Dan sekali lagi juga saya harus katakan, tulisan ini murni diniatkan sebagai bentuk berbagi pemikiran. Tidak ada maksud lain.
Pagi yang Berbeda
Entah kenapa hari ini, tanggal 30 Juli 2026, kepala terasa pusing. Kalau tidak salah ingat, saya mengalami tiga mimpi buruk yang membuat tidur saya sepertinya kurang. Ya, mungkin kurang tidur itu yang membuat kepala terasa pusing.
Rutinitas mencampur lagu yang biasa saya lakukan setiap pagi, pukul 04.00, akhirnya harus saya lewatkan demi melanjutkan anugerah tidur dari Pencipta itu.
Tapi…
Tunggu sebentar.
Apakah itu sesungguhnya sebuah anugerah?
Atau alat kontrol dari Sang Pencipta?
Untuk menyatakan kepada manusia bahwa ada waktu-waktu dalam 24 jam hidupnya ketika sesungguhnya nyawa manusia tidak bergantung kepada apa yang dapat dilakukannya untuk melindungi dirinya.
Sekuat apa pun gedung yang diciptakan untuk melindungi dirinya, atau persenjataan yang telah dipersiapkan oleh kementerian pertahanannya…
Semua manusia tetap akan mengalami, bahkan lebih lagi membutuhkan waktu ketika mereka harus menutup mata dan berserah penuh kepada kuasa yang ada di luar dirinya.
Entahlah…

Bukan Tentang Tidur
Namun…
Saya tidak ingin berbicara lebih jauh soal pertiduran itu pada tulisan Pencipta Part 2 ini.
Pertama, saya ingin mengungkapkan kekaguman saya kepada Yesus dari Nazaret.
Terlepas dari bagaimana agama yang saya anut meyakini keberadaan Yesus sebagai 100 persen manusia dan 100 persen Tuhan, saya mengagumi ajaran-Nya tentang koneksi antara Bapa dan Anak di dalam hubungan yang mistis dan sakral antara Tuhan dan Manusia, yang dikenal oleh manusia sebelum hadirnya Yesus.
Hubungan itu, menurut saya, adalah hubungan yang dapat digambarkan sebagai hubungan antara Pencipta dan Ciptaan.
Suara di Dalam Kepala
Seperti biasa, pagi ini, dalam waktu-waktu saya mencoba berkomunikasi di dalam hati dengan diri saya sendiri, dan jika saya beruntung, mungkin Pencipta berkenan memberikan inspirasi-Nya.
Tiba-tiba…
“Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya…”
Kata suara di dalam kepala saya.
“Karena kalau jauh, berarti itu bukan jatuh, tetapi dilemparkan…”
“Sejauh timur dari barat dilemparkan-Nya dosaku…”
Kata suara itu lagi di dalam kepala saya.
Saya bingung.
Ya, tentu saja.
Namun, menurut saya, mungkin suara di dalam kepala pagi ini, sekitar pukul 06.59, dan lagi-lagi di sepanjang Jalan Flyover Antasari, adalah hasil dari proses berpikir yang selama ini sudah saya lakukan.
Tentang bagaimana Yesus harus hadir di dunia ini sebagai manusia dengan pemikiran yang jauh berbeda dari pemikiran mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia pada zaman-Nya.
Berhenti Sejenak
Oke…
Kita berhenti sebentar.
Saya coba mengingat kembali apa yang diinspirasikan tadi pagi, sambil mendengarkan lagu “Ada Titik-Titik di Ujung Doa” dari Sal Priadi.
(Bisa kalian dengarkan di Langit Musik… 😁)

Pencipta dan Ciptaan
Pencipta dan Ciptaan adalah hubungan yang tampaknya dingin dan jaraknya tentu saja cukup jauh.
Intinya, bagi saya, jika kita berbicara tentang suatu entitas sebagai Pencipta dan Ciptaan, maka sebagai Pencipta, entitas yang Mahakuasa itu dapat bertindak apa saja kepada manusia, terlepas dari apakah manusia sejak awal telah ditentukan sebagai penakluk bumi dan makhluk lain yang tinggal di dalamnya.
Hal ini dapat dibuktikan, tentunya berdasarkan keyakinan, bahwa pada zaman Nabi Nuh, Pencipta itu berusaha memunahkan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.
Ya…
Begitulah hakikat Pencipta sesungguhnya.
Menciptakan.
Memperbarui.
Membentuk.
Dan membuat yang baru seturut kehendak-Nya.
Lalu Hadirlah Yesus
Hingga hadirlah Yesus…
Bagaimana Yesus dengan yakinnya mengatakan bahwa Dia akan duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Kok bisa?
Karena keyakinan-Nya itulah, pada masa itu banyak imam yang menganggap Yesus menghujat Allah.
Yesus berkata,
“Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Dan ini benar adanya.
Karena mereka memang belum tahu pada masa itu…
Buah tidak jatuh dari pohonnya pada ungkapan yang saya sebutkan sebelumnya biasanya digunakan untuk hubungan antara anak dan orangtua.
Jika aku boleh mengaitkan ungkapan tersebut dengan pengajaran tentang koneksi antara Tuhan dan Manusia yang diperkenalkan oleh Yesus, maka mungkin maknanya adalah ketika manusia jatuh, maka sesungguhnya manusia tidak akan jauh dari Pohonnya.
Karena Manusia itu bukan lagi ciptaan yang biasa, tetapi sudah memiliki koneksi yang baru, antara Bapa dan Anak.
Ini membuat pemirikan bahwa, saat manusia itu jatuh, itulah saat yang tepat bagi Manusia itu untuk kembali, karena Pohon itu tidak pernah jauh, dan manusia sebagai buah yang jatuh, tidak pernah jauh dari Pohonnya itu.
Tetapi Dosa dan apapun penyebab kejatuhan Manusia itu dilemparkan jauh, sejauh Timur dari Barat…

Mengapa Harus Yesus?
Pencipta membutuhkan seseorang yang bukan bagian dari dosa (Yesus lahir tanpa ayah dan dikandung dari Roh Kudus), tetapi tetap mengalami konsekuensi dosa, untuk duduk di sebelah kanan-Nya kelak.
Agar keadilan tidak mutlak hitam dan putih.
Karena Yesus adalah manusia yang mengalami apa yang dialami manusia.
Kekecewaan.
Kepahitan.
Kemarahan.
Kesedihan.
Ketakutan.
Dan sebagainya.
Penutup
Lalu pertanyaan akhirku adalah: menurutmu, bagaimana peran Entitas Maha Kuasa itu sebagai Pencipta untuk mengatur keseimbangan di muka bumi ini?
Agar apa yang diciptakanNya tetap seindah apa yang diharapkanNya?
Mmhhh…
“Salam…”
“Syukur…”
(Kututup dengan lagu “Secukupnya” — Hindia | Langit Musik.)
Bersama Kamar Hitam
Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini
Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…

Leave a Reply