Tulisan tentang pilihan dan harapan di dalam website kamarhitamku.com

Pilihan dan Harapan

Pagi ini, tepatnya hari Kamis, tanggal 6 Agustus 2026 sekitar pukul 04.45, rutinitas yang aku lakukan selepas bangun pagi adalah sedikit berolahraga. Ditemani oleh istri yang sedang menyiapkan bekal dan sarapan, kami mengobrol singkat yang menurutku sedikit berat.

Beratnya bukan karena bobot pembicaraannya, tetapi lebih kepada emosi yang bercampur di dalam topik yang dibicarakan. Lebih kepada evaluasi tentang apa yang aku dan istri lakukan maupun tidak lakukan, dan tentunya tentang anak-anak. Kemungkinan, kalau aku nilai, aku lebih banyak mendengarkan, sedangkan istriku yang lebih banyak berbicara.

Aku tidak tahu pasti pertanyaan apa dan dalam konteks apa pembicaraan itu berlangsung. Yang aku tahu adalah ada perkataanku sebagai respons terhadap apa pun yang ditanyakan atau dibicarakan istriku pagi ini, yaitu:

“Harapan ada karena pilihan ada.”

Bisa jadi karena aku cenderung berpikir absurd, sehingga perkataan yang keluar sebagai respons dari mulutku pun terdengar absurd oleh istri. Aku ingat pagi ini, setelah mendengar perkataan itu, istriku berkata,

“Ntar dulu… jangan ngomong dulu…”

Kira-kira respons bapak-bapak apakah langsung diam? Kalau aku sih memilih langsung terdiam… ha… ha… ha…

Ehemm… Oke, setelah itu, kalau tidak salah, aku lalu menyiapkan pakaian anak-anak. Aku tidak ingat apa yang memicunya, tetapi aku kembali berkata untuk kedua kalinya kepada istriku pagi ini,

“Ingat ya, Moy…” (panggilan sayangku… he… he… he…)

“Harapan ada karena ada pilihan.”


A thoughtful message spelled with Scrabble tiles on a white surface, conveying hope and love.
Ilustrasi

Perjalanan Menuju Sebuah Pertanyaan

Lalu, ketika menyusuri Jalan Antasari, aku pun kepikiran sepanjang perjalanan, sembari menikmati kemacetan ringan seperti biasa…

Kenapa aku mengatakan itu?

Dan sekali lagi, aku tidak ingat sama sekali apa yang memicunya. Mungkin karena aku cenderung tidak peduli pada hal-hal yang konkret, atau memang aku hanya peduli dengan apa yang aku katakan… entahlah…

Yang pasti, imajinasi membawaku melanglang buana ke tempat di mana segala bentuk pemikiran yang masuk akal maupun tidak masuk akal berada.

Pertanyaan pertama yang muncul adalah, mengapa sebuah pilihan dikatakan pilihan?

Dan mengapa sebuah harapan dikatakan harapan?

Aku berharap, dari pertanyaan itu akan terjawab mengapa kalimat bahwa “harapan ada karena ada pilihan” menjadi masuk akal, atau kapan kalimat itu menjadi masuk akal.

Apakah relevan bagi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja?

Atau justru terikat kepada subjek, ruang, dan waktu tertentu…

Ya, aku berharap…

Harapan itu muncul karena aku punya pilihan untuk mencari tahu atau tidak mencari tahu…

Untuk memikirkannya atau tidak memikirkannya…


Ketika Kata “Takdir” Muncul

Dramatic silhouette of a climber scaling rocks against a vibrant sunset in Nordland, Norway.
Ilustrasi

Dalam proses berpikir tersebut, muncul sebuah kata,

“Takdir.”

Jika takdir itu berlaku unik bagi setiap manusia, apakah pilihan bagi setiap manusia menjadi relevan?

Jika pilihan menjadi relevan, kapan pilihan-pilihan manusia yang katanya diberikan kehendak bebas itu menjadi relevan, tetapi pada saat yang sama juga memungkinkan takdir yang unik itu berlaku secara pasti?

Tetapi, apa sesungguhnya takdir?

Jika takdir adalah takdir, maka takdir tidak dapat diubah.

Namun, bagaimana kita, manusia biasa ini, mampu mengetahui bahwa takdir adalah takdir?

Atau kita hanya tahu bahwa takdir adalah sebuah takdir karena kita menilainya dari hasil akhirnya?

Misalnya, ada sepasang suami istri yang akhirnya berpisah karena si suami memutuskan untuk menceraikan istrinya, atau si istri memutuskan untuk menggugat cerai suaminya.

Apakah itu sebuah takdir?

Apakah kita lalu mengatakan bahwa pasangan suami istri itu ditakdirkan untuk berpisah?

Dari mana kita tahu?

Jika takdir adalah ujung dari sebuah jalan kehidupan yang sudah ditentukan oleh Pencipta sebagai entitas yang Maha Tahu dan Maha Kuasa secara unik kepada setiap kita, bukankah takdir itu hanya diketahui oleh-Nya dan hanya Dia?


Musa, Perceraian, dan Kehendak Manusia

Yesus secara unik lalu menjelaskan hal ini ketika seseorang menguji diri-Nya tentang bagaimana perceraian yang diizinkan oleh Musa di kalangan bangsa Yahudi pada masa itu.

Yesus dengan tegas mengatakan bahwa sejak awal tidaklah demikian.

Ia kemudian menambahkan bahwa karena kedegilan hati manusialah, Musa mengatur adanya surat cerai dan proses-proses seperti demikian.

Semata-mata untuk melindungi hak kaum wanita yang, secara umum, di dalam budaya bangsa Yahudi pada masa itu seperti dinomorduakan.

Pada masa itu, dengan seenaknya kaum pria Yahudi menceraikan istrinya, dan tidak ada hak apa pun yang dapat dipertahankan oleh wanita atau mantan istrinya.

Sehingga Musa kemudian, dengan hikmat yang mungkin berasal dari Pencipta, dan aku yakini ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan proses yang diizinkan oleh Pencipta kepada kehidupan Musa sejak ia lahir, hingga akhirnya harus tinggal di tengah-tengah bangsa Mesir dan mengecap pendidikan tentang peradaban serta tata hukum yang sudah mapan pada zaman itu.

Tetapi tunggu dulu…

Bukan berarti kehidupan Musa adalah sebuah takdir.

Ada beberapa kesempatan yang dapat membuat Musa memilih untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Namun, lihat apa yang dilakukan Pencipta?

Dia mendatangi Musa agar Musa mengubah pilihannya.

Bahkan ketika Pencipta mengutus Musa pun, Musa tetap memilih untuk tidak melakukannya dengan alasan kelemahan dalam berbicara, hingga akhirnya Pencipta memutuskan untuk mengutus penolong, yaitu Harun.


Harapan Selalu Mengikuti Pilihan

Text 'YES OR NO' on textured stone background, symbolizing decision making.
Ilustrasi

Lalu apa poinnya?

Kenapa jadi mengarah ke sini?

Kita kembali kepada pilihan…

Kita memilih untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena pilihan itu tersedia.

Ketika pilihan itu tersedia, pertanyaan berikutnya adalah,

Pilihan mana yang kita ambil?

Di sinilah peran harapan itu, menurutku.

Kita memilih untuk melakukan sesuatu, apa pun latar belakangnya, karena ada harapan akan hasil yang diperoleh dari pilihan tersebut.


Perceraian Bukan Takdir, Melainkan Keputusan

Ketika pasangan suami istri itu memilih untuk berpisah, baik karena keputusan si suami maupun si istri, maka ada harapan dari mereka akan kehidupan yang berbeda ke depannya…

Benarkah?

Ada sesuatu yang berbeda?

Tentu saja.

Tetapi perbedaan itu tidak untuk dinilai sebagai sesuatu yang baik maupun tidak baik, ataupun sebagai sesuatu yang benar ataupun salah dalam konteks kemanusiaan.

Melainkan murni sebagai hasil dari tindakan yang sarat dengan penilaian sepihak berdasarkan untung-rugi atau manfaat dan mudarat bagi masing-masing pihak, yang umumnya disertai dengan alasan bahwa manusia bisa berubah…

Memang…

Manusia bisa berubah…

Namun menurutku, entah itu adalah sebuah tindakan yang tepat atau bukan, esensi dari sebuah pilihan yang telah diputuskan sejak awal oleh kedua pasangan suami istri itulah yang penting.

Entah selama prosesnya si istri atau si suami sesungguhnya tidak menginginkannya, yang pasti keputusan telah diambil.

Menurut keyakinan agama yang kuanut, sejak suami dan istri itu memutuskan untuk bersatu, mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

Pilihan salah satunya, setelah mereka menjadi satu, adalah pilihan bersama.

Harapan salah satunya, setelah mereka menjadi satu, adalah harapan bersama.

Dan pada akhirnya, keputusan salah satu adalah keputusan bersama.


Memilih Sebelum Berharap

Jadi, menurutku, tidak ada takdir di dalam sebuah perceraian.

Itu murni sebuah keputusan.

Di sisi lain, banyak juga hal-hal yang sering kali kita anggap sebagai sebuah takdir.

Namun, jika ditelusuri lagi, mungkin secara jujur kita terpaksa mengatakan bahwa sedikit banyak ada keputusan-keputusan yang kita ambil sebelumnya, baik secara sadar maupun tidak.

Bisa jadi bukan sebuah keputusan tunggal, melainkan serangkaian keputusan kecil yang kita ambil dalam setiap langkah hidup kita.

Pilihlah sebelum berharap.

Dan harapkanlah yang baik sebelum memilih.

Harapan yang baik dan yang tidak pernah berubah tidak pernah ada pada manusia.

Menurutku, hanya ada pada Pencipta itu sendiri.

Entahlah…

happy valentines day, woman, man, kitchen, food preparation, couple, relationship, together, cooking, pair, cutting, chopping, everyday life, blonde, cutting board, vegetables, happy couple, stove, cook, knife, noodles
Ilustrasi

Semoga setelah pilihan diambil,

selama prosesnya hingga tiba maut memisahkan,

Pencipta itu meluruskan segala sesuatu yang terlanjur bengkok,

dan membengkokkan segala sesuatu yang penting,

untuk tujuan bersama,

seperti kataNya: demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.


Bersama Kamar Hitam

Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini

Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *