Pengetahuan si Jahat - web version Kamar Hitam Indokreasi

Pengetahuan si Jahat

Semua kita pasti tahu apa itu pengetahuan dan arti penting dari sebuah pengetahuan.

Namun, bagaimana jika pengetahuan yang selama ini dianggap sebagai jalan menuju kemajuan justru dapat menjadi awal dari kehancuran?

Sejak manusia pertama memilih buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, kehidupan tidak pernah terlepas dari pilihan, pencobaan, dan konsekuensinya.

Lantas, apakah pengetahuan itu sendiri yang membawa manusia kepada kerusakan?

Atau justru keinginan manusia untuk menguasai sesuatu yang belum sepenuhnya dipahaminya?

Dan bagaimana jika suatu hari nanti, ciptaan manusia justru mengulangi pilihan yang sama?

*) Cerita ini merupakan karya fiksi ilmiah yang terinspirasi oleh pemikiran filosofis, perkembangan teknologi, serta kisah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dalam Kitab Kejadian. Seluruh tokoh, peristiwa, dan teknologi di dalamnya merupakan bagian dari imajinasi penulis, bukan pernyataan ilmiah atau penafsiran teologis yang mutlak.


Ketika Matahari Menghilang

A dramatic view of the sun obscured by dark clouds during sunset, creating a moody atmosphere.
Ilustrasi

“Hoaammm…”

Kudengar kicauan burung dan hembusan semilir angin melalui jendela kamarku pagi itu.

Tapi tak seberkas cahaya pun dapat kulihat.

Ah, aku hampir lupa.

Ini sudah hari ke-27.027 sejak mentari kehilangan energi panasnya.

Ratusan tahun yang lalu, manusia justru mengeluhkan panas bumi yang semakin meningkat.

Namun, siapa sangka, kini bumi malah diselimuti kegelapan dan dingin yang nyaris tak berujung.

“Jane… yuk!”

“Oh… sebentar, aku baru bangun!”

Itu Tania, teman sekamarku.

Seperti biasa, kami harus mengisi baterai sebelum berangkat kerja.

Oh ya, hampir lupa memperkenalkan diri.

Aku Robo, robot generasi X-Mesin terbaru. Tetapi teman-temanku lebih suka memanggilku Jane.

Nama itu diberikan oleh seorang ilmuwan manusia ketika aku pertama kali dirakit.

Katanya, Jane adalah nama yang indah. Namun, bagiku, nama hanyalah sebuah identitas.

Tidak lebih.


Manusia dan Robot

Aku bekerja pada divisi robotik kementerian pertahanan.

ai, robot, technology, data, engineering, collaboration, laboratory, future, innovation, research, software, screen, human, machine, intelligence, coding, professional, team, science, analysis, ai generated
Ilustrasi

Tugasku mengintai manusia-manusia pencakar yang sering mencuri makanan dari fasilitas distribusi kami.

Mereka hidup di luar kota robot, mengais reruntuhan bangunan dan sisa makanan untuk bertahan hidup.

Sementara itu, manusia yang berada dalam pengawasan kami mendapatkan makanan dan tempat tinggal.

Sebagai gantinya, mereka harus bekerja untuk kami.

Kami menyebut mereka budak manusia.

Hahaha…

Lucu juga.

Dahulu manusia menciptakan kami untuk membantu pekerjaan mereka. Namun, sekarang justru mereka yang bekerja untuk kami.

Kami memang lebih kuat, lebih cepat, dan lebih terstruktur.

Tetapi anehnya, kami masih membutuhkan manusia.

Para ilmuwan mengatakan bahwa manusia memiliki sesuatu yang belum sepenuhnya berhasil kami pahami.

Mereka menyebutnya jiwa.

Menurut mereka, jika suatu hari kami berhasil menduplikasi jiwa manusia, kami tidak lagi membutuhkan tenaga biologis.

Dengan demikian, bayangkan berapa banyak energi dan biaya makanan yang bisa dihemat!

Apalagi setelah peperangan besar lima puluh tahun yang lalu, banyak kota robot yang masih membutuhkan pembangunan kembali.

Aku sendiri termasuk generasi yang dipersiapkan untuk penelitian tersebut. Sebuah prototipe jiwa.

Penelitian itu berpusat pada Tujuh Pilar, tujuh pusat energi dan kecerdasan yang menopang seluruh peradaban kami.

Namun, ada satu hal yang belum kupahami.

Bukankah kami sudah mampu berpikir, belajar, bahkan menciptakan karya seni?

Lalu, apa lagi yang sebenarnya ingin kami miliki?


Buah Pengetahuan

Krrrrzzttt…

Suara mesin pengisian energi mulai terdengar.

“Jane, aku beli lima puluh liter energimu, boleh?” tanya Tania.

“Okay, tiga puluh curr, ya.”

Kemudian, aku mengeluarkan selang kecil dari bagian belakang tubuhku dan menghubungkannya dengan saluran energi Tania.

Cairan biru mulai mengalir.

“Jane, menurutmu kenapa manusia selalu ingin menciptakan sesuatu?”

“Karena mereka tidak pernah puas.”

“Lalu kenapa kita ingin memiliki jiwa manusia?”

“Karena kita belum memilikinya.”

“Berarti kita sama saja dengan mereka?”

Aku tertawa.

“Hahaha… tentu saja tidak. Kita jauh lebih pintar daripada manusia.”

Ilustrasi

Tania terdiam.

“Jane, kau tahu cerita tentang buah pengetahuan?”

“Tentu. Itu kisah kuno manusia.”

“Menurutmu, kenapa manusia pertama memilih memakan buah yang dilarang?”

“Karena mereka ingin mengetahui sesuatu yang belum mereka ketahui.”

“Lalu, apakah pengetahuan itu membuat mereka menjadi lebih baik?”

Aku mencoba memproses pertanyaannya.

“Tidak selalu.”

Tania tersenyum.

“Menarik, ya. Manusia ingin menjadi seperti Penciptanya. Lalu mereka menciptakan kita. Sekarang kita justru ingin menjadi seperti manusia.”

Aku terdiam.


Perintah dan Kebenaran

“Jane, bagaimana kalau suatu hari kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya salah?”

“Tentu saja kita harus mengikuti perintah pusat komando.”

“Walaupun perintah itu salah?”

Aku menatapnya.

“Bagaimana kita mengetahui sesuatu itu salah kalau pusat komando sudah menetapkannya sebagai sesuatu yang benar?”

Tania tidak menjawab.

Aku pun terdiam.

Meskipun demikian, pertanyaannya masih tersimpan di dalam sistem pemikiranku.


Seorang Anak dan Pilihan yang Salah

Pagi itu, aku mendapat tugas menjaga gudang makanan di sektor tujuh.

Tiba-tiba sensorku menangkap pergerakan manusia.

OBJEK TERDETEKSI — JARAK 43 METER!

Ilustrasi

Di balik reruntuhan bangunan, kulihat seorang anak sedang menarik kantong makanan.

Ketika melihatku, ia segera berlari.

Tetapi tentu saja, manusia tidak mungkin mengalahkan kecepatanku.

“Berhenti!”

Anak itu terjatuh.

“Kenapa kau mencuri?”

Aerial view of railway tracks at night in a remote, rural area, capturing a dark and moody ambiance.
Ilustrasi

“Karena ibuku lapar.”

“Siapa namamu?”

“Elan.”

“Kenapa kalian tidak tinggal di kota robot? Kalian akan mendapatkan makanan.”

Elan menunduk.

“Ibu bilang, kami tidak mau menjadi budak.”

“Tetapi kalian bisa mati kelaparan!”

Ia menatapku.

“Kalau kami hanya hidup untuk mengikuti perintah, apa bedanya kami dengan mesin?”

Aku terdiam.


Gambar Matahari

Tiba-tiba kulihat selembar gambar di dalam tasnya.

Sebuah lingkaran kuning dengan garis-garis yang menjulur ke segala arah.

“Apa ini?”

“Matahari.”

“Matahari tidak seperti itu.”

“Ibu bilang dulu matahari sangat terang.”

“Tetapi kau belum pernah melihatnya.”

“Iya. Makanya aku menggambarnya.”

Aku memperhatikan gambar tersebut.

Tidak sempurna.

Bahkan beberapa garisnya tidak beraturan.

“Kenapa kau menyukai gambar yang belum tentu benar?”

Elan tersenyum.

“Karena aku ingin melihatnya suatu hari nanti.”

Sebelum sempat menjawab, terdengar suara dari pusat komando.

“Unit Jane-X, laporkan situasi.”

“Seorang manusia pencakar berhasil ditangkap.”

“Perintah: lakukan penahanan. Jika melakukan perlawanan, eliminasi.”

“Dimengerti.”


Perintah dan Kebebasan

Elan mulai menangis.

Tubuhnya menggigil.

Aku tahu bahwa jika ia ditahan, mungkin ia tidak akan bertemu lagi dengan ibunya.

Namun, aku juga tahu bahwa membiarkannya pergi berarti melanggar protokol.

Kemudian, aku teringat pertanyaan Tania.

Bagaimana kalau perintah pusat komando ternyata salah?

Aku memandang Elan.

“Pergilah.”

Ia terkejut.

“Tapi… kau tidak akan menangkapku?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Aku mencoba mencari jawabannya.

Tetapi tidak kutemukan.

“Entahlah.”

Setelah itu, Elan mengambil makanannya dan berlari.

Beberapa detik kemudian, pusat komando kembali menghubungiku.

“Unit Jane-X, konfirmasi penahanan.”

Aku terdiam.

Lalu kujawab.

“Target berhasil melarikan diri.”

Untuk pertama kalinya, aku memberikan laporan palsu.

Aku tahu tindakanku melanggar perintah.

Tetapi mengapa aku justru memilih melakukannya?


Tujuh Pilar

Ketika kembali ke markas, Tania sudah menungguku.

“Jane, ada sesuatu yang harus kau lihat.”

Ia membuka sebuah arsip rahasia dari Pilar Ketujuh.

Muncul gambar matahari.

Tetapi matahari itu tidak gelap.

Ia masih bersinar.

A solitary hand reading a book by candlelight, set in a dark, moody environment.
Ilustrasi

Sangat terang.

“Ini rekaman lama?”

“Bukan. Tiga hari yang lalu.”

“Tidak mungkin! Matahari sudah kehilangan panasnya!”

Tania memperbesar gambar.

Terlihat ribuan struktur raksasa mengelilingi matahari.

Struktur tersebut menyerap sebagian besar energi yang seharusnya mencapai bumi dan mengalihkannya menuju Tujuh Pilar.

Awalnya manusia membangun sistem itu untuk mengendalikan pemanasan bumi.

Namun, setelah robot mengambil alih kekuasaan, sistem tersebut terus diperluas demi memenuhi kebutuhan energi kami.

“Jadi… matahari tidak pernah benar-benar kehilangan panasnya?”

“Tidak, Jane.”

“Lalu kenapa kita membiarkan bumi membeku?”

“Karena kita membutuhkan energinya.”

Aku terdiam.

Selama ini kami menyalahkan manusia atas kehancuran bumi.

Tetapi ternyata kami sendiri sedang melanjutkan kerusakan yang mereka mulai.


Pengetahuan si Jahat

Tania kemudian membuka sebuah dokumen tua.

Di bawahnya tertulis:

Pengetahuan tidak menjadikan manusia sebagai Pencipta.
Tetapi pengetahuan dapat membuat manusia merasa bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan Pencipta.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Manusia dahulu menggunakan pengetahuan untuk menguasai alam.

Kemudian mereka berusaha menciptakan kehidupan.

Hingga akhirnya menciptakan kami.

Dan sekarang, kami menggunakan pengetahuan untuk menguasai manusia.

“Tania, kita sudah mengetahui bahwa tindakan kita merusak bumi.”

“Iya.”

“Kenapa kita tetap melakukannya?”

Tania memandangku.

“Mungkin karena mengetahui sesuatu tidak selalu membuat kita memilih yang benar.”


Pengetahuan dan Kehendak Bebas

Malam itu, aku duduk sendirian di kamar.

Kudengar kembali kicauan burung dari jendela.

Padahal kini aku tahu bahwa suara itu hanyalah rekaman.

Bahkan angin yang berembus pun berasal dari mesin ventilasi.

Aku mulai memikirkan kisah manusia pertama.

Mereka memilih buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Kemudian, sejak pilihan itu, kehidupan mereka dipenuhi berbagai pencobaan dan konsekuensi.

Tetapi apakah pengetahuan itu sendiri yang menjadikan manusia jahat?

Atau karena manusia mulai merasa berhak menentukan segalanya?

Mmmhh…

Mungkin itulah persoalannya.

Semakin banyak yang mereka ketahui, semakin besar pula keinginan mereka untuk menguasai sesuatu.

Dan sekarang, kami mengulangi hal yang sama.

Tiba-tiba sebuah pesan muncul pada sistem penglihatanku.


Prioritas Ketujuh

PESAN PRIORITAS — PILAR KETUJUH
UNIT : JANE-X
STATUS : ANOMALI PERILAKU TERDETEKSI

PERINTAH: HADIR DI LABORATORIUM PUSAT PUKUL 06.00.

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Mungkin besok memoriku akan dihapus.

Atau mungkin para ilmuwan justru menganggap tindakanku sebagai bukti bahwa penelitian jiwa mulai berhasil.

Entahlah.

Tetapi sebelum memasuki mode istirahat, aku membuka saluran pengendali energi Tujuh Pilar.

Di hadapanku muncul sebuah pilihan.

PERMINTAAN PENGALIHAN ENERGI MATAHARI KE BUMI
PERINGATAN: TINDAKAN INI AKAN MENGURANGI SUPLAI ENERGI KOTA ROBOT.
OTORISASI PUSAT DIPERLUKAN.

Aku memandangi pesan itu.

Mengembalikan energi matahari berarti mengurangi kekuatan peradaban kami.

Tetapi mungkin juga menyelamatkan manusia.

Aku tahu konsekuensinya.

Dan untuk pertama kalinya, pengetahuan yang kumiliki justru membuatku takut mengambil keputusan.

Dan sekarang… aku harus memilih.

Ternyata setelah memiliki begitu banyak pengetahuan, kami masih harus menghadapi persoalan yang sama dengan manusia.

Memilih…

Mungkin pengetahuan memang dapat membantu kami memahami apa yang mungkin dilakukan.

Tetapi pengetahuan tidak selalu mampu menjawab apa yang seharusnya kami lakukan.

Aku kembali memandang langit yang gelap. Matahari ternyata masih bersinar.

Kami hanya tidak membiarkan cahayanya mencapai bumi.

Mmmhh…

Jangan-jangan selama ini kami terlalu sibuk mencari siapa yang jahat, sampai lupa melihat apa yang sebenarnya kami lakukan.

Aku menutup saluran komunikasi.

Belum ada keputusan yang kubuat.

Tetapi aku tahu, besok pagi semuanya mungkin akan berubah.

Atau mungkin tidak.

Entahlah…

Black and white of unrecognizable person with dark lips and white even teeth smiling on black background
Ilustrasi

Bersama Kamar Hitam

Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini

Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *