Darimanakah datangnya sebuah pemikiran?
Darimanakah datangnya sebuah pemikiran?
Aku pribadi akan beranggapan bahwa aku memperolehnya karena aku telah mengenal sesuatu, di mana sesungguhnya bukan karena aku yang menciptakannya.

Mengenal, membandingkan, menyimpulkan…
Setelah aku mengenal sesuatu itu, lalu aku bandingkan dengan pengenalanku kepada sesuatu yang lain, yang juga bukan karena aku yang menciptakannya.
Dua hal itu kemungkinan memiliki persamaan. Persepsiku sebagai manusia biasa biasanya akan membawaku kepada satu, dua, atau beberapa kesimpulan, yang aku coba rangkai berdasarkan banyak atau sedikitnya kesamaan atau perbedaannya.
Setelah itu, akan ku-kelompokkan berdasarkan kriteria persamaan dan perbedaan tersebut.
Penemuan hingga pengelompokan itu aku lakukan sendirian.
Entah itu di dalam kepalaku, atau aku tuliskan seperti ini…
Lantas aku bilang dalam hatiku…”Pemikiranku? mmmh..”
Peyebaran buah pikiran…
Tetapi kemudian, tulisan tentang pengenalanku ini aku sebarkan dan beritahukan kepada orang lain. Entah itu melalui cetakan kasar pada sebuah media, baik elektronik maupun cetak, atau aku ucapkan melalui mulutku.
Di mana otakku dan mulutku itu pun bukanlah ciptaanku.
Jadi, sesungguhnya segala sesuatu yang kita kenal hingga saat ini bukanlah sesuatu yang baru.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam Pengkhotbah 1 ayat 9:
“Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi. Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”
Karena menurutku, semuanya telah dirancang oleh Pencipta, dan akan selalu begitu hingga bumi ini tak sama lagi
suatu saat nanti…

Pemikiran – Pencipta
Pemikiran kita bukanlah sesuatu yang baru.
Karena pemikiran itu bukanlah berasal asli dari dalam diri kita, manusia ciptaan ini. Kita menggunakan segala materi dan perangkat biologis yang merupakan ciptaan Sang Pencipta itu.
Kita melihat fenomena yang ada di alam ciptaan-Nya, menggunakan otak dan alam bawah sadar yang juga ciptaan-Nya, dan menyebarkannya kepada semua orang dengan mulut yang juga ciptaan-Nya.
Apakah semua mengalir secara acak?
Apakah semua itu dibiarkan Pencipta mengalir begitu saja tanpa adanya pengendalian yang terstruktur dan terencana?
Atau, semuanya hanya terjadi secara acak tanpa adanya maksud dan tujuan, hanya untuk kesenangan saja?
Tapi tunggu sebentar, ada sesuatu yang mulai menggangguku.
Apakah pertanyaan semacam itu pun bisa juga bukan berasal dari diriku, karena otakku ini bukanlah ciptaanku, bukan?
Bersama Kamar Hitam
Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini
Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…

Leave a Reply