Manusia Lelah - sebuah kontemplasi di balik cerita Kamar Hitam Indokreasi

Manusia Bisa Lelah

A woman in a dimly lit room rests her head on a desk, illuminated by a desk lamp.
Ilustrasi

Tidak ada manusia yang benar-benar lemah.

Setidaknya, itu yang ia percayai pada pukul 3:44 pagi, ketika dunia masih terlalu sunyi untuk disebut pagi, tetapi terlalu jujur untuk disebut malam.

Ia terbangun tanpa alasan yang jelas.

Bukan karena alarm atau suara kendaraan dari jalan raya. Bukan pula karena mimpi buruk yang memaksanya membuka mata.

Ia hanya terbangun.

Di kamar yang gelap dan dingin, ia duduk bersila di tepi lantai. Punggungnya tegak, meski tidak sepenuhnya kuat. Matanya masih berat, tetapi pikirannya sudah lebih dulu bekerja, seperti mesin tua yang tidak pernah benar-benar dimatikan.

Ia menyalakan beberapa lagu pujian dari ponselnya. Suara lembut mengalun pelan di dekat telinganya. Ada nada yang naik, ada lirik yang menyebut harapan, ada suara manusia yang terdengar begitu yakin bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.

Namun di dalam dirinya, tidak ada yang bergerak.

Ia mencoba berdoa.

Tetapi yang datang bukan kata-kata suci. Yang datang adalah pekerjaan. Angka-angka. Keluarga. Kebutuhan rumah. Wajah anak-anaknya. Tanggung jawab yang belum selesai. Percakapan yang belum tuntas. Hal-hal kecil yang menumpuk diam-diam sampai menjadi sesuatu yang berat.

Ia menutup mata lebih rapat, berharap pikirannya akan tunduk.

Tetapi pikiran manusia jarang bisa diperintah begitu saja.

Akhirnya, ia menyerah.

Bukan menyerah pada hidup. Hanya menyerah pada posisi duduk yang terlalu lama memaksa tubuh terlihat kuat.


Tubuh yang Berjuang

Black and white image of a woman sleeping peacefully with a sleep mask on.
Ilustrasi

Ia membaringkan tubuhnya perlahan. Tulang punggungnya menyentuh alas dengan rasa lega yang hampir tidak terdengar. Seolah-olah bagian tubuh itu baru saja selesai memikul dunia.

Punggung yang selama ini berjuang agar kepala tetap tegak.

Kaki yang berjuang agar tubuh tetap melangkah.

Tangan yang berjuang agar pekerjaan tetap selesai.

Dan dada yang berjuang agar semua rasa tidak tumpah begitu saja.

Ia melipat kedua tangan di atas perut.

Posisi itu membuatnya terdiam.

Entah kenapa, ia teringat pada tubuh manusia yang sudah tidak lagi bernapas. Tubuh yang telah selesai dari semua urusan. Tubuh yang tidak lagi ditagih untuk kuat, cepat, sabar, berguna, atau mengerti semua orang.

Untuk sesaat, ia merasa seperti sedang berlatih mati dalam tenang.

Bukan mati yang mengerikan, tetapi mati dari kebisingan.

Mati dari tuntutan.

Mati dari keharusan untuk terus tampak baik-baik saja.

Lagu itu masih mengalun. Suaranya tetap lembut. Tetapi kali ini, ia tidak lagi memaksa dirinya untuk merasakan sesuatu. Ia hanya berbaring. Diam, merasakan, dan mendengar bagaimana paru-parunya bernapas teratur.


Satu Kata Bermakna (Lelah)

Lalu sebuah kata muncul.

Sederhana sekali.

Lelah...

Bukan suara yang menggelegar atau penglihatan aneh. Bukan pula kejadian mistis yang membuat bulu kuduk berdiri.

Hanya satu kata yang datang dengan tenang, seperti seseorang mengetuk pintu dari dalam dirinya sendiri.

Lelah...

Ia mengulang kata itu dalam hati.

Barangkali, selama ini ia bukan kehilangan iman. Bukan kehilangan semangat atau menjadi manusia yang buruk. Bukan pula menjadi seseorang yang lemah. ia hanya lelah…

Sehari sebelumnya, ia bahkan tidak ingin melakukan apa pun. Tidak ingin berpikir. Tidak ingin menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Ia hanya ingin membuka kitab lamanya, buku kebijaksanaan yang selama ini sering ia datangi ketika hidup mulai terasa terlalu ramai.

Ia membuka halaman demi halaman, Membaca beberapa bagian dan melompat ke bagian lain untuk menemukan sesuatu.

Entah itu penghiburan, jawaban, atau sekadar perasaan dekat.

Tetapi kata-kata itu terasa jauh. Seperti cahaya dari rumah seseorang di kejauhan: terlihat, tetapi belum cukup hangat untuk menyentuh kulit.

Ia membaca, tetapi tidak benar-benar mengerti.

Ia mencari, tetapi tidak benar-benar menemukan.

Dan pagi itu, dalam keadaan tubuh yang berbaring seperti sudah menyerah kepada bumi, ia baru mengerti sedikit.

Kadang manusia tidak butuh jawaban besar.

Kadang manusia hanya perlu mengakui satu hal kecil: Aku lelah.


Diksi yang Tak Selesai : Lemah..? Lelah..?

Ia memikirkan orang-orang yang sering disebut malas, lemah, tidak sanggup, tidak kuat, tidak disiplin, tidak cukup beriman, tidak cukup berjuang.

Padahal mungkin sebagian dari mereka tidak sedang kalah.

Mereka hanya sudah terlalu lama berdiri.

Ada hal-hal yang terlihat remeh bagi orang lain, tetapi menjadi penopang hidup bagi seseorang.

Secangkir kopi yang diminum tanpa gangguan.

Sepuluh menit duduk tanpa ditanya apa-apa.

Satu lagu yang mengingatkan bahwa dunia belum sepenuhnya runtuh atau satu kalimat baik dari seseorang yang menjadi ruang kecil untuk bernapas.

Bagi sebagian orang, itu mungkin biasa saja.

Tetapi bagi orang yang sedang kehabisan daya, hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi jembatan agar ia tidak jatuh lebih dalam.


Realita Sederhana yang Tak Terlihat

Ia teringat seorang ibu di pasar.

Ibu itu berdiri di antara suara pedagang, aroma sayur, plastik belanja, dan angka-angka kecil di struk yang tampak tidak berbahaya. Tangannya memilih bahan makanan, tetapi pikirannya berada di banyak tempat sekaligus.

Apakah cucian sudah beres?

Anak-anak nanti makan apa?

Suami pulang jam berapa?

Uang belanja cukup sampai akhir minggu?

Harga telur naik lagi?

Haruskah beli yang lebih murah, atau yang lebih baik?

Orang mungkin hanya melihat seorang ibu sedang berbelanja.

Tetapi di dalam kepalanya, ada rapat besar yang tidak pernah diumumkan. Ada perhitungan atau kekhawatiran.

Walalupun terkadang ada cinta, tetap ada rasa takut gagal yang sering mengintai.

Ada pula usaha untuk membuat rumah tetap berjalan meski dunia di luar terus berubah harga.

Lalu ketika ibu itu pulang dengan wajah letih, mungkin ada yang berkata, “Kok begitu saja capek?”

Padahal bukan belanjanya yang melelahkan. Yang melelahkan adalah semua hal tak terlihat yang ikut dibawa di dalam kepala.


Lelahkah Manusia itu ?

Ia membuka mata perlahan.

Kamar masih sama. Lagu masih mengalun. Pagi masih belum sepenuhnya tiba.

Tetapi sesuatu di dalam dirinya berubah sedikit.

Tidak besar dan tidak dramatis.

Hanya seperti seseorang menaruh tangan di bahunya dan berkata, “Kamu tidak lemah. Kamu hanya sedang lelah.”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak merasa perlu membela diri.

Ia membiarkan tubuhnya tetap berbaring.

Membiarkan napasnya berjalan pelan.

Membiarkan pikirannya turun satu per satu dari tempat yang terlalu tinggi.

Ia mengerti bahwa lelah adalah bagian dari menjadi manusia.

Lelah bukan dosa ataupun kegagalan.

Bahkan, lelah pun bukan tanda bahwa seseorang tidak punya harapan.

Tetapi ia juga mengerti satu hal lain: lelah yang tidak dirawat bisa berubah bentuk. Ia bisa menjadi khawatir yang memakan hari atau menjadi semangat yang patah. Sesekali bahkan Ia bisa menjadi tulang yang terasa remuk meski tidak ada yang terlihat terluka.


Jika ada yang bilang Lemah, katakan Cukup!

Woman holding a sign reading 'enough' in a protest against plastic pollution.
Ilustrasi

Maka pagi itu, ia tidak meminta dirinya menjadi kuat.

Ia hanya meminta dirinya jujur.

Sebab mungkin kekuatan manusia tidak selalu dimulai dari berdiri tegak.

Kadang kekuatan dimulai dari keberanian untuk berkata:

Hari ini aku lelah...

Dan karena aku lelah, aku perlu berhenti sebentar.

Bukan untuk kalah.

Tetapi agar esok, aku masih bisa melangkah.


Bersama Kamar Hitam

Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini

Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *