Mengutus dan Diutus
Mendengar ataupun melihat kata pengutusan, mengutus, atau diutus, kita akan diarahkan kepada akar kata utus.
Secara umum, cara kita, manusia, memaknai kata utus, perspektif kita akan diarahkan kepada adanya pihak yang mengutus dan pihak yang diutus.
Dan tentunya, dalam peradaban manusia normal, di mana adanya hirarki dan kedudukan yang sering kali tidak seimbang, namun dimaknai wajar, akan muncul pandangan bahwa yang mengutus memiliki posisi yang lebih tinggi dari yang diutus.
Biasanya, umumnya, yang mengutus dianggap memiliki kapabilitas untuk melakukan disposisi terhadap siapa saja yang dianggapnya kompeten untuk diutus.

Perwira, Hamba, dan Otoritas
Peristiwa yang menarik dicatat di dalam books of wisdom orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, di dalam Matius 8:5-13 dan Lukas 7:1-10.
Aku akan mengambil hanya dari Injil Matius saja.
Ada seorang tuan yang hambanya terbaring sakit. Yesus mengatakan, “Aku akan datang menyembuhkannya.”
Yesus berniat untuk langsung hadir ke rumah tuan tersebut, atau perwira tersebut, untuk langsung menyembuhkan hambanya.
Aku Tidak Layak
Tetapi, sang perwira menjawab, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.”
Sampai di sini, aku merasa perwira tersebut sepertinya sudah sangat percaya kepada Yesus sebagai seseorang manusia yang memiliki otoritas yang tidak sama dengan manusia lainnya.
Yang lebih mengejutkan bagiku adalah perwira tersebut malahan berkata lagi, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

Pergi, Datang, dan Kerjakanlah
“Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku juga ada seorang prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu, ‘Pergi,’ maka ia pergi. Dan kepada seorang lagi, ‘Datang,’ maka ia datang. Ataupun kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini,’ maka ia akan mengerjakannya.”
Aku terkejut…
Lebih lagi, Yesus pun pada saat itu juga heran, dan berkata kepada pengikut-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.”
Timur dan Barat
Yesus menambahkan, “Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat, dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan anak-anak kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
Ini pun lebih mengejutkan lagi bagiku.
Seorang yang awam dan tidak mengerti apa-apa soal kerohanian. Lebih lagi, aku adalah seonggok daging yang sakit dan perlahan dipulihkan Pencipta. Sampah yang rusak, dan perlahan didaur ulang oleh Pencipta.
Siapalah aku…
Pengutusan, Mengutus, dan Diutus
Tetapi, aku mencoba memfokuskan pada judul tulisan ini: Pengutusan, Mengutus, dan Diutus.
Lalu setelah semua pesan itu, yang diakhiri dengan kalimat tentang kegelapan, Yesus mengakhiri perkataan-Nya kepada perwira itu dengan berkata, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.”
Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Siapa Pengutus? – Siapa Utusan?
Aku bertanya: siapa yang mengutus?
Siapa yang diutus?
Siapa yang meminta kesembuhan?
Kepada siapa kesembuhan diminta?
Dan siapa yang disembuhkan?
Manusia, manusia, manusia, manusia, manusia…???
Entahlah…
Bersama Kamar Hitam
Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini
Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…

Leave a Reply