Geradom

Dark and moody cityscape image showcasing skyscrapers under a cloudy sky.
Ilustrasi

Kematian dan kegilaan adalah dua hal yang dianggap sama jika kau tinggal di Geradom.

Saat kau dianggap kehilangan kewarasan, maka waktu adalah satu-satunya sahabatmu hingga akhirnya kau dinyatakan mati dan kandang babi adalah tempat yang paling nyaman jika kau sudah dianggap mati karena gila.

Lain halnya jika kau terbukti membahayakan orang lain. Maka ruang bawah tanah yang ada di
tengah-tengah kuburan akan menjadi tempat terakhirmu.

Di dalam ruangan itu, diam di antara jasad yang terbungkam,

kau hanya bisa menunggu dan menikmati ketakutanmu hingga akhirnya kelaparan menghantarkanmu kepada kematian.


A young man gazes thoughtfully into the distance, framed by a clear blue sky.
Ilustrasi

Dasa Namanya

Suatu hari, seseorang bernama Dasa mendengar suara dari kejauhan. Saat itu dia sedang berjalan menuju rumahnya, tak jauh dari area pekuburan. Dasa perlahan mengambil langkah dan mengikuti arah suara tersebut hingga tibalah dia di sekitar area dimana tahanan gila yang berbahaya ditempatkan.

Lalu tiba-tiba saja ada sesosok manusia yang mendekati Dasa, berlari kencang di antara batu nisan dengan raut wajah yang tampak marah. Manusia itu mengangkat dan mengepalkan kedua tangannya diatas kepala, bersikap seperti akan menyakiti Dasa. Ia pun spontan menutup mata dan melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. Namun, tiba-tiba orang tersebut berhenti di depannya, seolah-olah ada yang menahannya, dan kemudian berteriak: “Untuk apa kau disini!” Kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Dasa.

Perlahan Dasa menurunkan lengannya yang sedari tadi menutupi matanya dan memberanikan diri menatap pria yang ingin menyerangnya itu. Di wajah pria itu tampak banyak sekali noda darah yang sudah mengering. Tubuhnya kurus dan telanjang, hanya ada balutan kain putih kecil yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


Pemulihan…

Pria itu kemudian membungkuk perlahan dihadapan Dasa, memandangnya, hingga akhirnya ia berlutut dengan kedua telapak tangan menyentuh tanah. Ketika dasa melihat posisi pria sudah tidak membahayakan dirinya lagi, ia memberanikan diri menyentuh kepala pria itu, yang sudah tertunduk dihadapannya. Sepertinya ia takut dengan Dasa.

dove, bird, freedom, flying, pigeon, animal, wildlife, wings, plumage, flight, nature, dove, dove, dove, dove, dove, bird, pigeon, pigeon, pigeon
Ilustrasi

Ketika Dasa menyentuh kepala pria itu, tiba-tiba saja wajahnya yang sebelumnya kelihatan pucat dan agak menghitam, kini mulai kelihatan memerah dan bercahaya. Desiran aliran darah segar dan sekilas cahaya mengembalikan cerahnya wajah pria itu.

Lalu pria itu bertanya kepada Dasa, “Kenapa aku berada disini? Dan kau siapa?” Dasa hanya terdiam, lalu kedua tangannya memegang kedua lengan pria itu dan membantunya berdiri. Tapa mengucapkan sepatah kata, Dasa langsun membantu pria itu berjalan keluar dari area pekuburan hingga mereka tiba di sebuah rumah yang tak jauh dari situ. Rumah itu milik bapak penjaga kuburan.


Rahasia…

fantasy, light, mood, heaven, lovely, fairy tale, dream, mystical, fantasy picture, compose, atmospheric, photomontage, secret, man, effect, spiral, strange, surreal, representation, phenomenon, god, black hole, singularity, unearthly
Ilustrasi

Ketika melihat Dasa dan pria itu berjalan dari kejauhan, si penjaga kuburan sedikit terkejut dan berkata dalam hatinya, “Hah? itu kan pria yang tiga hari lalu dilempar ke ruang bawah tanah?” dengan segera ia pun mendekati pria itu dan Dasa yang tampaknya sudah sedikit lelah berjalan. Kemudian ia membantu Dasa membopong pria itu menuju ke rumahnya.

Dengan nafas yang sedikit terengah, Dasa lalu berkata kepada Bapak itu,

“Bolehkah saya meminta segelas air pak?”, “Oh iya, sebentar saya ambilkan” jawab si Bapak.

Kemudian ia meletakkan pria tadi ke sebuah kursi yang ada di berandanya dan mengambil air untuk Dasa dan pria itu.

Setelah air minum meredakan kekeringan yang ada di tenggorokannya dan sedikit memulihkan rasa lelahnya, Dasa pun memperkenalkan diri dan menceritakan segalanya kepada si penjaga kubur. Dasa lalu berpesan agar cerita itu tetap menjadi rahasia mereka.

(…)


Aku dan Ide…

“Kriing…Kriing…Kriing…”

“Hmmm, sudah waktunya istirahat dan menjalani pengobatan” kataku dalam hati, ketika aku mendengar alarm pengingat yang diletakkan di sudut kamarku. Alat itu memang khusus disediakan bagi kami yang dirawat di bangsal ini.

Aku meletakkan pensil yang sepertinya sudah bosan berada di genggamanku dan meliuk-liuk dengan setia mengikuti arahan tanganku.

Mereka bekerjasama menerjemahkan isi kepalaku tentang kegilaan dan kematian ke dalam bentuk tulisan yang tergores acak di sebuah buku usang milikku.

Seperti biasa, aku menuntaskan hasratku akan dopamin terlebih dahulu,

agar aku dapat menepiskan segala kekhawatiran yang dapat membuatku marah dan tidak terkendali ketika menjalani pengobatan. Aku tidak mau jarum suntik berisi cairan penenang menyentuh tubuhku lagi.

Lalu aku melangkah ke hadapan cermin yang ada di sebelah meja menulisku, kupandangi tubuh kurus kerempeng yang perlahan pulih di hadapanku, dan memastikan penampilannya tetap rapi, Setelah itu, aku menutup pintu kamar dan mengambil langkah menuju ke ruang terapi.


Bersama Kamar Hitam

Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini

Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *