Pencipta, Tuhan, dan Manusia yang Bertanya
Terlepas dari konsep teologis, asal mula segala sesuatu sering kali dipandang sebagai suatu kondisi dari ketiadaan menjadi ada. Atau, dalam istilah yang lebih umum, terdapat sebuah proses penciptaan.
Berbicara tentang proses penciptaan tersebut, menurut pemahaman manusia, maka akan ada subjek dan objek di dalamnya. Subjek adalah Pencipta, dan objeknya adalah ciptaan itu sendiri.
Jika suatu saat manusia itu bertanya, Kenapa? Kenapa saya diciptakan? atau kenapa harus ada ini? Kenapa tidak ada yang itu? Spesifik terhadap konteks penciptaan, maka menurut saya, jawaban yang paling benar, atau kebenaran sejati yang terkandung di dalam jawaban itu, hanya dapat ditemukan di dalam diri Pencipta itu sendiri.
Namun, apakah ada satu manusia yang hidup di dunia, pernah bertemu langsung dengan si Pencipta itu, lalu hidup sampai saat ini?
Kalau ada, yuk diskusi…
Kalau nggak ada, yuk diskusi juga…
Atau, bisa juga manusia memilih mencari jawab dengan mereka-reka berdasarkan pengalamannya sendiri. Berdasarkan akal budi dan logika yang dimilikinya sendiri. Kemudian, dengan menyambung-nyambungkan segala sesuatu yang terjadi di sekitar dirinya, manusia mencoba memahami dengan hikmat dunia.
Tetapi, apakah hikmat dunia itu suatu kebenaran sejati?
Entahlah…
Mungkin yang saya sebut sebagai hikmat dunia di sini adalah cara manusia memahami sesuatu dengan pengalaman, logika, sejarah, dan keterbatasannya sendiri. Jadi, bukan sesuatu yang pasti salah, tetapi juga belum tentu mampu menjangkau seluruh kebenaran.
Ketika Manusia Mencari Nama untuk Tuhan
Dulu, ketika manusia merasa bahwa matahari adalah yang paling berkuasa di atas bumi, beramai-ramai konsep Matahari adalah Tuhan bertahta dalam pemahaman manusia.
Selain itu, ketika ada suatu benda di sekitar mereka yang membawa pengaruh tertentu, dirasakan secara psikologis, tetapi tidak dapat dijelaskan dengan akal, maka benda itu dianggap sebagai tuhannya.
Lalu saya bertanya lagi:
Apakah kemudian Tuhan dan Pencipta adalah hal yang sama?
Tuhan, menurut pemikiran saya yang masih sangat terbatas ini, sepertinya atau agaknya adalah konsep yang diyakini ada. Bukan selalu karena secara wujud dapat dibuktikan secara empiris, tetapi karena ada sebab-akibat di dunia yang dirasakan oleh manusia, namun tidak dapat terjawab sepenuhnya.
Misalkan saja, nama Tuhan itu ada dan diakui jauh setelah manusia pertama mengenal si Pencipta, yaitu Adam dan Hawa. Nama Tuhan dipanggil menurut Kejadian 4 ayat 26 sejak zaman Enos.
Lalu, kenapa penting nama Tuhan disebutkan?
Padahal jauh sebelum Enos, Adam sudah bersekutu intim dengan si Pencipta.
Menurut saya, interpretasi tentang konsep Pencipta sebagai Tuhan agaknya adalah sesuatu yang diizinkan oleh Pencipta untuk berkembang di dalam isi kepala manusia.
Mungkin manusia memang membutuhkan nama, atau membutuhkan sebutan.
Selain itu, mungkin manusia membutuhkan cara untuk menunjuk kepada sesuatu yang melampaui dirinya sendiri.
Dan mungkin, dari sanalah agama mulai mengambil bentuk: sebagai cara manusia memberi nama pada yang melampaui dirinya, sekaligus sebagai cara kelompok manusia memahami keadilan, penderitaan, dan harapan.
Siklus Keteraturan dalam Hidup Manusia
Manusia hidup di dalam suatu alam semesta bermateri, yang berganti antara pagi, siang, dan malam. Lalu menuju ke pagi lagi, begitu seterusnya.
Dengan demikian, manusia menjalani 1×24 jam yang sama menurut ukuran manusia itu sendiri. Berdasarkan perhitungan terstruktur yang ditemukan manusia itu, yang kemudian disebut dengan waktu.
Siklus itu berjalan secara teratur dan terpola sedemikian rupa.
Ada yang lahir, kemudian ada yang mati dalam satu satuan waktu.
Ada yang bertemu, kemudian ada yang berpisah dalam satu satuan waktu.
Kegembiraan berganti menjadi kesedihan. Lalu tak lama kemudian, kesedihan mungkin akan digantikan oleh kebahagiaan yang baru.
Memang bersifat sementara, tetapi bukan sesuatu yang semu. Sebab, dapat dirasakan secara nyata, walaupun terkadang hilang perlahan dari ingatan pada suatu satuan waktu tertentu pula.
Di dalam siklus tersebut, manusia menyaksikan berbagai perbedaan di antara sesamanya.
Lalu muncullah keinginan di dalam diri manusia itu.
Karena, menurut iman yang saya pahami, sejak awal manusia memang haus akan pengetahuan yang baik dan yang jahat. Maka manusia itu, agaknya, ditakdirkan untuk memiliki rasa penasaran yang tinggi.
Bagaimana jika begini?
Bagaimana jika begitu?
Aku ingin yang seperti itu.
Aku ingin yang seperti ini.
Namun, sepertinya tidak semua keinginan dapat dipenuhi oleh manusia itu seorang diri.
Karena itu, manusia perlu membentuk kelompok.
Dengan meyakini bahwa keinginan mereka sama.
Kemudian, mereka berusaha untuk mencapai keinginan itu bersama-sama.
Sama seperti saat menara Babel berdiri. Adapun manusia itu satu bahasanya, dan mulai saat itu, apa pun yang diinginkan mereka seolah-olah tidak akan ada yang tidak terpenuhi.
Namun akhirnya, terseraklah manusia itu ke seluruh penjuru dunia ini. Baik secara geografis, maupun bahasa.
Pada akhirnya…
Manusia, Perbedaan, dan Penyebaran di Bumi
Bahkan pulau-pulau yang ada saat ini pun, dulunya sempat menyatu.
Tetapi kemudian, berbagai gempa dan pergerakan bumi terjadi. Seolah-olah dunia ini bekerja seperti ayakan besar, mengguncang, memisahkan, dan menyebarkan kehidupan ke berbagai tempat.
Dunia ini, dalam imajinasi saya, seperti dicipta untuk mengayak segala makhluk di dalamnya agar merata, dan tersebar pertumbuhannya di seluruh bumi.
Lalu, manusia?
Mungkin agar tujuan mula-mula Pencipta, yakni untuk beranak cucu dan bertambah banyak, serta menguasai dan menaklukkan bumi, dapat tercapai.
Manusia itu, saya, dan sebagian dari kita yang merasa manusia, mungkin akan meyakini bahwa kita ini tidak lebih dari makhluk biologis yang diciptakan untuk tujuan Pencipta itu.
Namun, manusia juga diciptakan dengan perbedaan yang bisa dibilang mencolok di seluruh dunia.
Atau yang kemudian kita kenal sebagai ras yang berbeda.
Tetapi karena perbedaan yang ada, kita sering kali menolak kesederhanaan itu.
Lalu, kita memilih untuk meyakini bahwa karena perbedaan-perbedaan itu, Pencipta yang disebut Tuhan telah menyediakan suatu keadilan bagi golongan-golongan tertentu.
Sering kali manusia memahami keadilan Pencipta seolah-olah berpihak pada golongannya sendiri.
Manusia pilihan dari golongan tertentu.
Kelompok yang merasa langsung ditunjuk oleh Pencipta.
Padahal, menurut saya, kalau kita lihat lagi, adanya perang, adanya saling menindas, semuanya mungkin hanyalah hubungan sebab dan akibat.
Yang kuat dan yang lemah, yang menang dan yang kalah.
Yang menguasai dan yang dikuasai.
Agama, Keadilan, dan Cara Manusia Memahami Penderitaan
Mungkin dari sanalah manusia mulai membangun cara untuk memahami keadilan.
Kemudian, mungkin dari sanalah agama mengambil bentuk sosialnya.
Bukan semata-mata sebagai sesuatu yang buruk. Bukan juga semata-mata sebagai sesuatu yang selalu murni dari kepentingan manusia.
Tetapi sebagai salah satu cara manusia memberi nama pada yang tidak mampu ia pahami sepenuhnya.
Sebagai cara manusia menafsirkan penderitaan, mencari harapan, dan membangun identitas.
Selain itu, sebagai cara manusia mengatakan: kami tidak sendirian.
Namun, dalam perjalanan waktu, agama juga bisa dipakai manusia untuk membedakan dirinya dari yang lain. Untuk merasa lebih benar, lebih dipilih. Bahkan, untuk merasa lebih dekat dengan Pencipta dibandingkan manusia lainnya.
Dan di titik itu, saya kembali bertanya:
Apakah yang sedang dipahami manusia adalah kehendak Pencipta?
Atau hanya bayangan manusia tentang kehendak Pencipta?
Entahlah…
Saya tidak sedang menjawab.
Saya hanya sedang bertanya dari ruang gelap saya sendiri.
Masa Depan, Siklus, dan Pengulangan Hidup
Bahkan kekuasaan pun akan saling diperebutkan di antara manusia. Dalam siklus yang dengan naifnya, mungkin, manusia anggap sebagai masa depan.
Masa depan mungkin hanyalah persepsi.
Atau, mungkin masa depan tidak lebih dari cara manusia memberi nama pada pengulangan yang belum tiba.
Namun, manusia tetap hidup dengan harapan, proyeksi, rencana, ketakutan, dan kemungkinan.
Padahal, dalam kenyataannya, bisa jadi yang terjadi hanyalah perpindahan siklus pagi, siang, dan malam.
Sama seperti kitab Pengkhotbah 1 ayat 14 berkata, bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Barangkali tidak ada yang benar-benar baru.
Yang berubah hanya bentuknya.
Apa yang ada dulu, akan ada sekarang.
Sementara itu, apa yang ada sekarang, mungkin akan ada lagi di masa depan.
Yang berubah adalah materinya.
Namun, kontennya sering kali tetap sama.
Materi berubah karena dunia ini terbentuk dari elemen yang berbeda. Ada elemen air, angin, api, dan tanah. Karena itu, perpaduan di antaranya, menurut imajinasi saya, diizinkan oleh Pencipta untuk saling membentuk dan berpola sedemikian rupa, demi menjaga keseimbangan bumi ciptaan-Nya ini.
Seleksi Alam, Generasi, dan Kehendak Pencipta
Dalam menjaga keseimbangan itu pula, ketika manusia memilih pengetahuan dan memutuskan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya, mungkin Pencipta mengizinkan adanya seleksi alam.
Bukan karena saya benar-benar tahu maksud-Nya.
Tetapi dalam pemikiran saya, mungkin dengan cara itulah tujuan Pencipta tetap berjalan, walaupun satu generasi harus lenyap, lalu generasi yang lain muncul.
Karena itulah, bangsa Yahudi pada masa itu diharuskan menjalani 40 tahun di padang gurun. Agar satu generasi lenyap, dan generasi yang terbarukan siap menerima sesuatu yang baru dari Pencipta.
Setidaknya, begitu salah satu cara saya mencoba memahaminya.
Demi menjaga tatanan keseimbangan bumi ini.
Atau mungkin bumi lainnya.
Atau semesta lainnya.
Entahlah…
Di bagian ini, saya tahu, pikiran saya mungkin sudah mulai terlalu jauh.
Tetapi tidak apa-apa.
Karena tulisan ini memang bukan ingin menjadi jawaban yang sempurna.
Sebaliknya, tulisan ini hanyalah jejak dari pikiran yang sedang mencoba berjalan.
Kepastian di Dalam Kematian
Pada saat manusia itu menyadari bahwa dialah ciptaan, di saat yang bersamaan, dia menyadari pula bahwa ternyata ada perbedaan antara satu manusia dengan manusia yang lain.
Dan menurut kitab Kejadian 8 ayat 21, apa yang ditimbulkan dari hati manusia sejak kecil adalah jahat.
Maka, kepastian dalam kematian.
Ya, bukan suatu kepastian yang umum dan wajar saja.
Kalau ditanya, apakah kita, sebagai manusia, pasti mati?
Maka serentak, agaknya, kita akan sama-sama menjawab:
YA.
Dengan pasti.
Tanpa ada keraguan sedikit pun.
Tetapi saya pribadi akan bertanya lagi:
Kenapa kita harus mati?
Kenapa Pencipta tidak membuat saja tubuh kita ini abadi, tetapi mengganti kesadaran kita selalu dengan yang baru seturut waktu yang diinginkan-Nya sebagai Pencipta?
Semacam direset ulang.
Dengan jumlah tubuh yang sama, misalnya 300 juta tubuh manusia, maka sampai selamanya hanya sejumlah itu.
Lalu, Pencipta tinggal mereset dan mengubah pola pikir, kesadaran, dan segala sesuatu yang semakin menua.
Bukan tubuhnya.
Atau misalnya, sekali dalam 100 tahun, Pencipta mengubah alam sadar seluruh manusia menjadi baru.
Menjadi baik, saling mendukung, atau sesuatu yang lebih layak untuk hidup bersama.
Namun, agaknya keseruan di kalangan Pencipta akan berkurang ya kalau seperti ini…
Menurut saya.
Yang penuh dengan kekosongan dalam pengertian.
Tetapi tidak ada salahnya bertanya.
Karena mungkin itulah yang dianugerahkan kepada saya sejak lahir.
Mempertanyakan segala sesuatu dengan cara tertentu.
Dan itu pula yang, menurut iman saya, diturunkan sejak Adam dan Hawa memilih pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dulu.
Setidaknya, itu yang diungkapkan di dalam kitab suci agama saya.
Kematian, Evolusi, dan Imajinasi tentang Hidup Baru
Oh iya, mungkin saja ini ada kaitannya dengan evolusi.
Sebagai kemungkinan penjelasan biologis, evolusi dapat menjadi salah satu cara memahami kenapa kehidupan terus berubah, kenapa tubuh tidak bertahan selamanya, dan kenapa generasi baru selalu muncul menggantikan generasi sebelumnya.
Dengan kata lain, manusia berpikir dan bertindak berdasarkan waktu-waktu dan tempat di mana dia diizinkan oleh Pencipta untuk berkembang.
Namun, kenapa harus begini ya?
Evolusi dapat menjadi satu jawaban yang belum tentu pasti. Tetapi setidaknya, bagi saya, ia dapat menjadi alasan pada tahap pertama.
Bahwa kepastian dalam kematian, baik tubuh, jiwa, atau apa pun itu elemen yang dipercaya dalam agama dan keyakinan lainnya, mungkin adalah bagian dari struktur hidup manusia sebagai makhluk yang saat ini berada pada tingkat teratas dalam rantai makanan.
Hingga akhirnya kelak, mungkin makhluk lain, tubuh baru, jiwa baru, atau pemikiran baru berkembang di tengah-tengah kehidupan dunia.
Entah di dunia ini.
Entah di dunia yang lain.
Atau di bumi yang baru.
Saya tidak tahu.
Dan mungkin memang belum waktunya untuk tahu.
Tulisan Ini Hanya Pemikiran Pribadi
Tulisan ini hanyalah pemikiran pribadi saya.
Segala kebenaran yang ada di dalamnya disusun berdasarkan hikmat dunia.
Itu pun dunia saya.
Bukan dunia kalian.
Bukan pula kebenaran yang saya paksa untuk diterima siapa pun.
Saya hanya sedang mencoba memahami sesuatu dari ruang yang belum terang.
Dari pertanyaan yang belum selesai, iman yang masih sering bergumul dengan logika, dan logika yang masih sering terbentur pada misteri.
Jika ada yang berpendapat berbeda…
Silakan.
Karena mungkin memang dari sanalah percakapan dimulai.
Bukan dari kesempurnaan jawaban.
Tetapi dari keberanian untuk bertanya.
Bersama Kamar Hitam
Kalau suatu saat kamu ingin memulai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana (yang butuh jawaban ataupun tidak),
Atau kamu ingin memulai suatu dari ide yang belum selesai…
Kamu bisa mulai dari sini
Ikuti Kamar Hitam untuk sesuatu yang baru sesekali…

Leave a Reply